0
Memprediksi Datangnya Hujan dengan GPS

Badan Meteorologi Jepang tengah mengembangkan penggunaan GPS (Global Positioning System) untuk meningkatkan keakuratan dalam memprediksi terjadinya hujan. Dalam metode ini, mereka menganalisa konten uap air melalui GPS.

Juru bicara pejabat badan meteorologi Jepang mengatakan, GPS mengamati perubahan seismik dengan menerima gelombang radio dari satelit. Sejumlah besar uap air secara perlahan akan tersalurkan ke gelombang radio dan menyebabkan eror.

“Kami kemudian memanfaatkan hal ini. Bekerja sama dengan Meteorological Research Institute, kami mengembangkan metode untuk memperkirakan kuantitas uap air melalui eror tersebut,” kata juru bicara itu, seperti dikutip dari Japan Today.

“Keterlambatan datangnya gelombang radio dapat dimanfaatkan untuk memprediksi terjadinya hujan dengan lebih akurat,” tambahnya.

Dia pun menyebutkan, metode baru ini akan segera diperkenalkan dan diaplikasikan. Badan Meterologi Jepang telah mengadakan simulasi metode GPS dan cara ini terbukti dapat memprediksi area kecil yang akan kedatangan hujan.

Selanjutnya, metode ini akan terus dikembangkan agar bisa memprediksi area yang lebih luas lagi. Cara ini setidaknya akan sangat membantu evakuasi satu hingga lima jam sebelum terjadinya banjir yang diakibatkan hujan lebat seperti yang pernah terjadi di Shizuoka.

0
Bahan Bakar Mobil dengan Urine?

Semakin menipisnya cadangan minyak bumi untuk keperluan bahan bakar, membuat para ahli putar otak untuk mengembangkan sumber energi terbarukan.

Kini, ada penemuan terbaru yang memungkinkan bahan bakar kendaraan bermotor diganti oleh urine. Para ilmuwan telah menciptakan katalis yang bisa mengekstraksi sumber energi hidrogen yang berasal dari urine.
Katalis tidak hanya bisa menjadi sumber energi bagi mobil berbahan bakar hidrogen di masa depan,tapi juga bisa membantu kebersihan lingkungan, terutama dalam hal penanganan limbah air. Demikian keterangan yang dikutip dari Times of India.

Gerardine Botte dan timnya dari Ohio University memanfaatkan pendekatan elektrolik untuk menghasilkan hidrogen dari urine.

Zat urine yang merupakan limbah paling melimpah di dunia sebagian besar terdiri dari unsur urea. Sementara itu, urea merupakan unsur yang potensial untuk dijadikan sebagai hidrogen.
Dalam setiap molekul urine, terdapat empat atom hidrogen yang saling bergabung. Atom hidrogen dalam urine lebih kuat dibandingkan dengan atom hidrogen dalam molekul air.

Botte beserta timnya menggunakan elektrolisis untuk memisahkan molekul-molekul tersebut, untuk mengembangkan nikel berbasis elektroda guna mengoksidasi urea secara efisien.

”Selama proses elektrokimia, urea terserap oleh permukaan elektroda nikel yang kemudian mengalirkan elektron yang dibutuhkan untuk memecah molekul,” kata Botte.

Untuk memecah molekul tersebut, dibutuhkan tenaga listrik sebesar 0.37V. Sementara untuk memisahkan unsur air, memerlukan energi listrik kurang dari 1.23V. 

0
Botak Diprediksi dengan ”Kalkulator”

Kerontokan helai rambut menjadi masalah tersendiri bagi pria dan wanita dewasa ini. Berbagai cara pun ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut agar terhindar dari kebotakan.

Tapi kini, para ahli komputer Jerman mengembangkan sebuah program komputer yang mampu membantu orang yang memiliki masalah dengan kerontokan rambut. Rencananya program tersebut akan ditawarkan pada warga Inggris.

Program komputer itu bekerja akan menghitung dan memprediksi, di usia berapa seseorang akan mengalami kebotakan. Program ‘’kalkulator kebotakan’’ itu diklaim sebagai program pertama di dunia yang akan memprediksi dengan menghitung beberapa variabel, seperti usia, pekerjaan, tempat tinggal, dan tingkat stress serta jumlah kerontokan rambut.

Peluncuran ‘’kalkulator kebotakan’’ itu, disambut baik oleh warga Inggris dan Jerman. Sejak diuji coba selama sepuluh hari, diperkirakan program tersebut sudah digunakan sekira 500 ribu pria Jerman. Pengguna tersebut berusia rata-rata 15 sampai 30 tahun.

Kebotakan menjadi masalah serius bagi warga Inggris, dua dari tiga Pria di Inggris diketahui mengalami kebotakan rambut.

“Rambut yang lebat di kepala memiliki nilai yang sangat berharga terutama bagi orang muda,” kata Dr Adolf Klenk, kepala penelitian dan pengembangan klinik masalah rambut, Dr Kurt Wolff seperti dilansir Telegraph. ‘’Kami mengembangkan kalkulator kebotakan ini untuk meningkatkan kewaspadaan para pria muda,” katanya.

1
Hipnotis Bisa “Melumpuhkan” Otak?

Hanya dengan mengucapkan serangkaian kata, ahli hipnotis mampu “melumpuhkan” kinerja otak orang yang dihipnotisnya. Sekilas memang terdengar seperti bernuansa magis, namun ilmuwan memiliki penjelasan ilmiah mengenai hal ini.

Pada keadaan terhipnotis, seseorang akan melakukan apapun yang diperintahkan tanpa sadar. Ilmuwan menganalisa mekanisme kerja otak manusia dalam keadaan terhipnotis dengan menggunakan alat pemindai otak.
“Mekanisme kerja otak yang terjadi ketika keadaan terhipnotis dikategorikan sebagai jenis keterhubungan kembali antara dua wilayah otak yang berbeda,” kata Yann Cojan, dari University of Geneva, Switzerland, seperti yang dikutip dari Yahoo News Tech.

Studi yang melibatkan 12 orang partisipan ini mencoba mengulik apa yang terjadi ketika partisipan mencoba menggerakkan tangan dalam keadaan terhipnotis.

Hasilnya memperlihatkan, korteks penggerak pada bagian kanan otak seperti biasa memerintahkan tangan kanan untuk bergerak. Namun nyatanya kortek mengabaikan bagian otak yang secara normal berkomunikasi dalam mengontrol gerakan.

Padahal, bagian otak ini lebih banyak bekerja pada mekanisme sinkronisasi dibandingkan dengan yang biasa dilakukan pada keadaan sadar dengan wilayah otak berbeda yang disebut precuneus.

Precuneus berperan dalam penggambaran mental dan memori tentang seseorang. Cojan memperkirakan bagian precuneus ini yang terpengaruh oleh perkataan ahli hipnotis yang misalnya mengatakan, “tangan Anda sangat berat, tidak bisa digerakkan dan diangkat dari atas meja”, dan lain sebagainya.

Precuneus kemudian memberitahukan bagian kortek penggerak dengan melanjutkan sugesti seperti, “Tangan Anda memang terasa sangat berat untuk diangkat. Anda tak bisa mengerak-gerakkannya.”
“Pada saat kortek penggerak terhubung dengan sugesti yang mengatakan bahwa tangan kamu tidak bisa bergerak, maka bagian ini tidak mengirimkan pesan untuk menggerakkannya,”

0
Bahan Bakar Alternatif dari Jamur

Tanaman yang ditumbuhi jamur menghasilkan campuran hidrokarbon yang bisa dijadikan bahan bakar diesel. Dengan hasil temuan terbaru, ilmuwan berharap mereka bisa membelah gen DNA jamur untuk dicangkokkan ke mikroorganisma lain dan memprosesnya menjadi bahan bakar.

Mahalnya harga bahan bakar gas dan minyak bumi membuat negara-negara maju dan juga berkembang berupaya mencari cara untuk mendapat sumber energi alternatif.

Pravda melansir, bahan bakar alternatif berbasis ethanol yang dihasilkan dari jagung atau batang tebu, belum cukup mengatasi masalah ini. Pasalnya, untuk memproduksi satu liter ethanol membutuhkan hidrokarbon mentah dalam jumlah yang sama. Hidrokarbon adalah bahan kimia yang bisa menghasilkan bahan bakar diesel.

Masalah ini kemungkinan besar akan segera terpecahkan dengan bantuan jamur parasit mikroskopik yang hidup di dalam substansi kayu sebuah pohon dan memecah selulosa sehingga menghasilkan campuran hidrokarbon.

Selulosa kayu menjadi tempat terbaik bagi jamur penghasil hidrokarbon untuk menghasilkan bahan bakar. Namun untuk mengambilnya, sangat sulit karena harus memecah struktur selulosa kayu yang kuat. Diperlukan enzim khusus untuk proses tersebut.
Para peneliti studi ini mengatakan, bahan sedikit bahan bakar diesel yang dihasilkan jamur ini akan cukup memberikan tenaga bagi satu buah traktor untuk bekerja.

Oleh karenanya, mereka terus mengembangkan temuan ini. Menurut mereka, sangat mungkin mengadakan analisa genetik pada jamur dan mendeteksi gen serta mencangkoknya pada organisma lain untuk menghasilkan bahan bakar dari kayu berjamur.

3
Infeksi HIV Jenis Baru

Untuk kali pertama, ditemukan bahwa gorila tertentu, bisa jadi merupakan salah satu sumber HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Selama ini melalui berbagai riset, terbukti bahwa jenis virus HIV-1 yang menginfeksi manusia - hingga sekarang telah dilaporkan sekitar 33 juta kasus sedunia - berasal dari salah satu virus yang menjangkiti sejumlah simpanse.

Namun baru-baru ini, sebagaimana diberitakan BBC,  berdasarkan laporan jurnal Nature Medicine, para peneliti menemukan bahwa sebuah infeksi HIV yang dialami seorang wanita asal Kamerun, diduga kuat memiliki kesamaan dengan jenis virus yang juga menginfeksi sejumlah gorila. Untuk diketahui, HIV sendiri dinyatakan awalnya berasal dari virus serupa pada simpanse, yang disebut Simian Immunodeficiency Virus (SIV).

Dalam sejarahnya, HIV/AIDS pertama kali dikenali oleh para ilmuwan pada era 1980-an. Meski begitu, diperkirakan virus tersebut telah menjangkiti manusia sejak awal abad ke-20, terutama di salah satu kawasan di Kongo, Afrika. Virus ini diduga ‘melompat’ ke kalangan manusia saat terjadi kontak dengan hewan yang terinfeksi. Selain pada sejumlah simpanse, virus SIV sendiri juga ditemukan pada beberapa primata lainnya, termasuk gorila.

Laporan terbaru ini muncul berdasarkan analisa sejumlah dokter Prancis, yang merawat seorang wanita Kamerun berusia 62 tahun yang sempat tinggal di Paris. Saat perawatan, para dokter menemukan beberapa ‘keganjilan’ dalam hasil uji viral yang dilakukan. Analisa lebih jauh kemudian menunjukkan bahwa virus yang diderita sang wanita lebih mendekati karakter jenis SIV pada gorila ketimbang HIV (yang selama ini dikenal) pada manusia.

Sejauh ini, wanita tersebut disebut sebagai satu-satunya yang terinfeksi virus jenis ini. Namun demikian, para peneliti memperkirakan akan ada laporan kasus lainnya yang serupa. Pasalnya, sebelum pindah ke Paris, wanita yang sebelumnya tinggal di daerah semi-urban di Kamerun itu, mengaku tak pernah mengalami kontak atau bertemu dengan gorila maupun primata lainnya. Ia yakin virus tersebut didapatinya dari seseorang lain yang juga telah terinfeksi.

Analisa juga memastikan bahwa virus (baru) ini dapat memperbanyak diri di dalam sel-sel tubuh manusia. Salah seorang peneliti kasus ini, Dr David Robertson dari University of Manchester, menyatakan bahwa ini merupakan perpindahan definitif HIV pertama kepada manusia dari sumber yang bukan simpanse. Ia pun menggarisbawahi pentingnya monitoring terhadap kemunculan jenis virus baru tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa evolusi (virus) HIV masih terus berlangsung. Virus ini dapat berpindah dari satu spesies ke spesies lain, dari jenis primata yang satu ke yang lainnya; dan patogen-nya sudah ada bersama kita selama jutaan tahun, serta (tampaknya) berganti spesies pembawanya secara rutin,” tutur Robertson pula.

0
Sejumlah iPhone Dilaporkan Bisa Meledak

PARA pemilik iPhone 3G tipe terbaru (seri S) agaknya harus berhati-hati. Pasalnya, baru-baru ini dilaporkan bahwa dalam beberapa kasus terpisah, sejumlah gadget milik perusahaan raksasa Apple Inc tersebut meledak di beberapa tempat di Eropa.

Seperti diberitakan situs EWeek.com, berdasarkan laporan sejumlah media massa, Apple sendiri menyebut peristiwa ini sebagai kecelakaan terbatas (isolated incidents). Beberapa media bahkan memberitakan bahwa setidaknya dalam salah satu kasus, Apple sempat menawarkan penggantian kepada salah seorang pemilik alat komunikasi itu, dengan syarat merahasiakan soal kejadian serta kesepakatan tersebut.

Peristiwa ini merupakan masalah terbaru bagi Apple, terutama terkait dengan produk anyarnya yang justru disebut-sebut lebih canggih namun berharga ‘miring’ tersebut. Sebelumnya, sejak resmi diluncurkan ke pasaran Juni lalu, juga sudah ada laporan bahwa produk tersebut cepat panas hingga warnanya bisa memudar. Masalah lain yang disebut-sebut adalah terkait soal layarnya, serta baterai yang cepat habis.

“Apple Inc saat ini tengah menyelidik laporan media massa, yang menyebutkan bahwa telah terdapat satu atau lebih produk iPhone yang dikatakan meledak di daratan Eropa,” ungkap seorang juru bicara Komisi Eropa, kepada Reuters sebagaimana dikutip EWeek. com.

Lebih jauh, Helen Kearns, sang juru bicara, menyampaikan kepada para jurnalis yang berkumpul dalam sebuah jumpa pers khusus, bahwa Apple sedang mencoba mendapatkan informasi lebih banyak mengenai detail spesifik kecelakaan-kecelakaan tersebut. “Dan mereka menyatakan akan melakukan ujicoba yang dibutuhkan guna mengetahui kemungkinan penyebabnya,” tambah Kearns.

Berdasarkan laporan MacWorld pula, yang kembali menegaskan pernyataan pihak Apple seperti yang sudah disampaikan via Komisi Eropa tersebut, di dalam salah satu kecelakaan, seorang remaja Prancis mengaku mengalami cedera mata akibat malfungsi produk tersebut. Disebutkan, kecelakaan itu dialami sang remaja saat iPhone milik pacarnya terdengar mengeluarkan suara mendesis dan kemudian tiba-tba saja kaca touch screen-nya pecah.

Sementara dalam kasus lain, seorang pria warga Inggris berusia 47 tahun pun melaporkan hal serupa, bahwa iPhone milik putrinya tiba-tiba saja mendesis dan akhirnya ‘meledak’. Sementara dalam satu kasus di Belanda, sebuah iPhone yang konon tertinggal di dalam sebuah mobil, dilaporkan telah meledak dengan menimbulkan api hingga membakar tempat duduk mobil tersebut.

 
Ujie Caprone | © 2011 Blogger Template by Ujiecaprone.com